Sebuah medium komunikasi sebetulnya jika dimanfaatkan dengan baik maka akan jadi sebuah tempat diskusi yang sangat menarik, seperti yang terjadi pagi ini saat dua orang narasumber yang saya wawancara untuk artikel sebelumnya, yaitu Jeff Andrew membaca artikel wawancara Noro Ardanto, dan tertarik untuk menanyakan beberapa hal yang kaitannya dengan pemanfaatan perajin untuk proses desain. Dan pertanyaan tersebut berkembang jadi diskusi yang sangat menarik yang kemudian akan saya coba rangkum dan paparkan pada artikel ini.

Apparently apa yang diharapkan oleh Jeff adalah harapan hampir kebanyakan para desainer produk, sehingga saat proses produksi apakah itu memproduksi contoh produk, mock-up sampai dengan barang jadipun kita tidak perlu lagi kerepotan karena ide tersebut tidak bisa diwujudkan dalam bentuk mendekati real maupun barang real sekalipun.

Untuk memahami konteks yang kita diskusikan mungkin kita semua perlu tahu bahwa perajin dan desainer itu memiliki latar belakang yang berbeda. Perajin biasanya mendapatkan skill mereka diturunkan dari pendahulunya yang mengajarkan mereka dengan dasar berkesenian, sehingga pola pikir berkarya yang mereka miliki adalah pola pikir seniman. Tentunya tidak ada yang salah dengan menjadi seorang seniman, namun akan menjadi masalah jika pola pikir tersebut coba diterapkan pada proses desain dan apalagi jika mereka ada di pihak yang harus mengerjakan bersama dengan desainer. Seperti pengalaman yang dipaparkan oleh salah satu desainer, Iwan Sung yang kebetulan terpilih menjadi salah satu pembimbing di program Designer Dispatch Service (DDS) yang diadakan oleh IDDC (Indonesia Design Development Center).

Iwan Sung menjelaskan bahwa untuk bisa mengkomunikasikan ide biasanya ia menggunakan pendekatan dan cara berfikir seperti yang dilakukan oleh para perajin tersebut, sambil sedikit demi sedikit mulai mendidik cara yang tentunya paling efisien dan standar dilakukan oleh desainer. Istilah yang Iwan gunakan adalah “Jadilah seperti mereka. Makan apa yang mereka makan”.

foto: Iwan Sung

Jeff Andrew sendiri pernah mengalami masalah dalam pengembangan produk tas saat ia masih jadi desainer produk di Bluelounge Design. Jeff memaparkan bahwa gambar kerja adalah satu bentuk medium komunikasi terlengkap bagi desainer untuk memaparkan seperti apa sebuah desain ingin dibuat. Pada gambar kerja sudah ada ukuran yang lengkap dan informasi-informasi tambahan lain yang bisa ditambahkan agar proses produksi bisa dijalankan dengan baik. Namun ketika ia harus berhadapan dengan perajin yang notabene tidak bisa membaca gambar kerja, maka yang ia hadapi adalah permintaan contoh produk agar si perajin bisa membongkar ulang dan ditiru pembuatannya. Untuk ini Jeff mengungkapkan bahwa artinya ia perlu mencari pembuat contoh produk dahulu (sample maker) atau membuat prototype produk tas tersebut terlebih dahulu untuk diberikan pada si perajin. Kondisi saat itu tidak memungkinkan untuk Jeff melakukan cara yang dijalankan oleh Iwan Sung karena ada banyak model yang dikembangkan dengan maksud untuk bisa mempelajari potensi market.

Apa yang dialami oleh Jeff adalah masalah yang dihadapi hampir semua desainer produk yang ingin memanfaatkan skill dan kemampuan perajin dimana kondisinya tidak banyak perajin yang mengerti dan bisa membaca gambar kerja. Bagi perusahaan-perusahaan yang mau tidak mau sangat tergantung dari kebutuhan skill tertentu dari pekerjanya, maka pola kerja yang dilakukan oleh mas Singgih Kartono dengan Magno Design nya bisa dijadikan contoh. Mas Singgih melakukan rekrutmen dan juga mengajarkan sendiri semua pekerjanya agar bisa melakukan pekerjaan yang diinginkan. Intinya sih agar bisa menjaga keberlangsungan produksi sekaligus juga menjaga kualitas produk yang dihasilkan.

Dalam wawancara singkat yang saya lakukan dengan mas Singgih, ada sedikit perbedaan dengan apa yang kita bahas diatas, karena mas Singgih tidak melatih perajin, tetapi melatih orang yang tidak memiliki latar belakang perajin untuk bisa menjadi perajin. Kembali pada kebutuhan tentunya ya. Namun cara dan pendekatan yang dilakukan oleh mas Singgih tentunya bisa dijadikan salah satu opsi yang bisa diadopsi jika perusahaan tempat kita bekerja memang akan menggunakan skill-skill tertentu dalam proses desain dan produksinya secara berkelanjutan.

Kenyataan bahwa besarnya potensi perajin dan lemahnya kemampuan perajin dalam membaca gambar kerja sebagai skill yang berfungsi sebagai jembatan penyampaian ide para desainer memang jadi masalah yang tentunya bukan tanpa pemecahan. Seperti yang saya sempat singgung di atas, sebuah organisasi bentukan dari Kementerian Perdagangan yang namanya IDDC (Indonesia Design Development Center) memiliki program-program pelatihan yang bisa mendukung para perajin agar bisa mengembangkan skill mereka bukan hanya bisa membaca gambar kerja, bahkan juga memanfaatkan peranan desain dalam pengembangan produk-produk yang mereka hasilkan tentunya. Program tersebut dinamakan dengan Designer Dispatch Service atau seringkali disingkat dengan penyebutan DDS. Seperti apa bentuk layanan DDS tersebut?

Mungkin dari para pembaca ada pengalaman yang bisa dibagikan, silahkan berbagi cerita dibagian komentar di bawah tulisan ini agar manfaatnya bisa ikut didapat oleh semua desainer produk serta juga perajin kedepannya.

Featured Image: Pinterest


Tentang Penulis:

Abang Edwin SA atau lebih dikenal dengan panggilan BangWin adalah seorang konsultan digital business dan creative thinking (Bangwin Consulting). Ia juga dikenal sebagai pionir dalam bidang online community management semenjak tahun 1998. Ikuti jejak langkahnya dengan memfollow @bangwinissimo dan Facebook ProfilenyaBlognya bisa dibaca di bangwin.net