Silicon Valley telah lama berupaya membentuk kembali citra yang dimiliki oleh Washington (Pemerintahan)

Di seluruh masa kepresidenan Barack Obama, para eksekutif perusahaan teknologi secara teratur berbicara tentang seperti apa, dari perspektif mereka, administrasi pemerintahan mungkin dijalankan secara berbeda. Pada 2010, Steve Jobs dilaporkan memperingatkan Obama bahwa ia kemungkinan tidak akan memenangkan pemilihan ulang, karena kebijakan pemerintahannya merugikan bisnis seperti Apple. Dan dalam pidatonya di Konvensi Nasional Partai Republik 2016, Peter Thiel menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pendirian politik dengan menyindir, “Alih-alih pergi ke Mars, kami telah menginvasi Timur Tengah.”

Terhadap hal ini, satu cara khusus yang telah dicoba oleh Silicon Valley adalah mendorong Washington ke arah baru adalah sehubungan dengan pengembangan kebijakan. Secara khusus, teknologi terkemuka telah mulai mendorong pembuat kebijakan untuk menerapkan user-centered design pada pengguna (atau dikenal sebagai design thinking atau human-centered design) ke sektor publik. Pemikirannya adalah jika pemerintah mengembangkan kebijakan dengan pengguna yang lebih tepat dalam sebuah pemikiran, itu mungkin mempercepat kemajuan secara sosial daripada, seperti yang sering terjadi, malah menghambatnya.

Pada saat orang Amerika yang lebih sedikit dari sebelumnya percaya bahwa pemerintah memenuhi kebutuhan mereka, pendekatan baru yang mengangkat suara warga sudah lama tertunda. Meski begitu, itu akan menjadi salah arah untuk melihat user-centered design pada pengguna sebagai obat untuk semua yang membuat sakit pada sektor publik. Pendekatan ini sangat menjanjikan, tetapi hanya dalam keadaan yang ditentukan dengan baik.

User-Centered Design di Ranah Kebijakan Publik

Istilah “user-centered design” ini merujuk hanya pada metode membangun produk dengan memperhatikan apa yang diinginkan dan dibutuhkan pengguna.

Sampai saat ini, pendekatan tersebut telah diterapkan terutama pada domain perusahaan baru yang mencari laba. Namun, dalam beberapa bulan dan tahun terakhir, para pendukung user-centered design berusaha memperkenalkannya ke domain lain. Sebuah artikel 2013 yang ditulis oleh kepala sebuah perusahaan konsultan desain Denmark, misalnya, mengabarkan fakta bahwa “desain pada sektor publik sedang naik daun.” Dan dalam buku terbaru Lean Impact, mantan eksekutif Google dan pejabat USAID Ann-Mei Chang membuat sebuah kasus yang jelas dan meyakinkan mengapa sektor sosial mendapat manfaat dari pendekatan ini.

Menurut garis pemikiran ini, kita harus mengarah ke dunia di mana pemerintah merancang kebijakan dengan perhatian yang mengarah pada individu-individu yang akan diuntungkan – atau yang bisa dirugikan oleh – perubahan kebijakan publik.

Kecocokan yang Tidak Sempurna

Kelebihan user-centered design pada pengguna dalam konteks ini mungkin tampak jelas. Namun itu sangat kontras dengan bagaimana para pemimpin sektor publik biasanya mendekati pengembangan kebijakan. Seperti yang dicatat oleh teoretikus design thinking terkemuka, Jeanne Liedkta dalam bukunya, Design Thinking for the Greater Good, “Inovasi dan desain [saat ini] adalah domain para pakar, pembuat kebijakan, perencana, dan pemimpin senior. Semua orang diharapkan untuk mundur.”

Tetapi sementara user-centered design memiliki banyak menawarkan hal untuk pengembangan kebijakan, ia tidak dipetakan dengan sempurna ke wilayah baru ini. Untuk satu hal, dalam upaya mengorientasikan kebijakan publik terhadap orang-orang yang terkena dampaknya, penting untuk bertanya: Orang-orang yang seperti apa yang kita buatkan rancang? Sementara sebagian besar perusahaan baru (start-ups) awalnya berusaha untuk memuaskan kelompok pengikut yang berbeda, kebijakan publik umumnya perlu memuaskan banyak kelompok pengguna sekaligus. Selain itu, upaya-upaya ini sering kali adalah zero-sum yang artinya: Merancang kebijakan untuk memberi manfaat kepada beberapa pengguna yang sekaligus mungkin berarti membebankan biaya pada orang lain.

Mempertimbangkan, misalnya, negara yang ingin memperkenalkan tes standar baru pada sekolah menengah pertama. Siapa penggunanya? Haruskah pembuat kebijakan merancang untuk siswa yang mengikuti ujian, para guru yang mengelola ujian, orang tua yang ingin melihat siswa mereka berhasil, atau pembayar pajak yang membayar tagihan untuk sistem pendidikan yang bertujuan menumbuhkan anggota masyarakat yang produktif? Jika pembuat kebijakan berusaha untuk mencapai keseimbangan antara semua pengguna ini, apa cara terbaik untuk melakukannya?

Dalam beberapa kasus, pengguna tidak perlu diperlengkapi untuk mempertimbangkan kebijakan, bahkan jika kebijakan itu berdampak material terhadap mereka — terutama dalam hal masalah kebijakan yang kompleks. Sebagai contoh, sebagai seseorang yang secara teratur mengkonsumsi barang-barang yang diproduksi di China, hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China berdampak pada saya. Meski begitu, tidak masuk akal untuk memanggil saya untuk menyelesaikan pertengkaran saat ini antara kedua negara.

Dalam kondisi yang lain, pengguna mungkin memiliki perasaan yang kuat tentang kebijakan perancangan — dan mungkin lebih bijaksana bagi pembuat kebijakan untuk tidak mengindahkan mereka. Misalnya, perusahaan gas alam mungkin merupakan pengguna utama regulasi yang dirancang untuk mengekang metana, tetapi pembuat kebijakan tidak harus merancang kebijakan regulasi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Memang, bahkan gerakan sederhana untuk ini – seperti pertemuan antara Sekretaris Dalam Negeri dan eksekutif gas alam – dapat dimengerti memunculkan perhatian khusus atas dalam hal peraturan.

Kapan Pembuat Kebijakan Harus Mengabaikan Panggilan

Jadi bagaimana kita bisa mendapatkan manfaat dari user-centered design pada pengguna dengan keterbatasan ini?

Cara untuk menyiasati hal ini adalah mengenali bahwa user-centered design akan paling berharga bagi perancangan kebijakan dengan satu atau lebih kondisi berikut ini:

1. Ketika partisipasi pengguna secara sukarela membuat atau melanggar kebijakan. Pertama, user-centered design sangat relevan ketika keberhasilan suatu kebijakan tergantung pada pengguna yang memilih, seperti yang diharapkan oleh pembuat kebijakan.

Pertimbangkan Undang-Undang Perawatan Terjangkau (Affordable Care Act). Peluncuran Healthcare.gov yang gagal bukan hanya menimbulkan sakit kepala politik bagi pemerintahan Obama. Hal tersebut juga kegagalan kebijakan. Sejumlah besar pengguna perlu mendaftar untuk pertukaran layanan kesehatan agar mereka dapat terus hidup. Ternyata, platform melakukan pekerjaan yang buruk untuk memenuhi kebutuhan pengguna, mengakibatkan rendahnya pendaftaran awal dan, pada gilirannya, membahayakan kebijakan tertulis yang lebih besar.

2. Ketika suatu kebijakan melibatkan sekelompok pengguna yang berbeda. User-centered design juga berguna dalam kasus di mana suatu kebijakan perlu memuaskan satu kelompok, ketimbang beberapa kelompok, pengguna.

Misalkan negara bagian Michigan sedang mengembangkan program baru yang akan memberikan hibah (grant) kepada lulusan perguruan tinggi yang mengambil pekerjaan di pemerintahan negara bagian. Sehubungan dengan contoh sebelumnya yang melibatkan pengujian standar, yang melibatkan siswa, orang tua, guru, dan administrator, program hibah akan berdampak material hanya pada satu kelompok pengguna: para senior perguruan tinggi.

Dalam hal ini, menggunakan pendekatan user-centered design akan lebih produktif, karena masalah untuk siapa kebijakan itu (pertanyaan yang perlu dijawab sebelum proses desain yang berpusat pada pengguna dapat dimulai) akan diselesaikan.

3. Ketika pengguna cenderung tahu apa yang lebih baik daripada pembuat kebijakan. Dalam contoh hubungan ekonomi antara Amerika Serikat dan Cina yang disebutkan di atas, para ahli cenderung memiliki posisi yang lebih baik daripada orang awam untuk merancang kebijakan. Tetapi yang hal sebaliknya justru terjadi di sejumlah domain kebijakan.

Hal ini terutama terjadi ketika kebijakan yang baik kurang dijadikan produk pembelajaran dan lebih banyak dijadikan pengalaman hidup. Pembuat kebijakan yang mampu, secara definisi, tidak dalam posisi untuk merancang kebijakan zonasi yang dimaksudkan untuk melayani individu dengan ketidak mampuan tertentu. Sama membingungkannya dengan kebijakan perawatan kesehatan reproduksi yang dirancang oleh para pembuat kebijakan laki-laki, kebijakan peradilan pidana yang dirancang oleh pembuat kebijakan kulit putih, dan kebijakan tenaga kerja yang dirancang oleh pembuat kebijakan heteroseksual adalah di antara keputusan yang paling banyak dikritik dan dipertimbangkan dengan buruk oleh para pemimpin politik yang telah dibuat dalam dekade terakhir ini.

Para pelaku teknologi dan warga negara biasa dapat sepakat bahwa sektor publik membutuhkan peluncuran produk ulang. Tapi seperti user-centered design itu sendiri mengingatkan kita, bahwa mengidentifikasi masalah itu cukup mudah. Tugas yang lebih sulit adalah menerapkan solusi yang dikerjakan dengan baik dengan cara yang bijaksana. Karena pendukung pendekatan baru ini menerjemahkan user-centered design ke sektor publik, maka mereka perlu melakukan hal itu.


Steve Moilanen adalah penasihat dan konsultan untuk organisasi sektor sosial tahap awal. Ia sebelumnya mendirikan dan menjabat sebagai CEO pendiri Solstice, dan mengembangkan energi dan kebijakan ekonomi untuk Gedung Putih Obama.