Design should never say: ‘Look at me’. It should always say: ‘Look at this’.” — David Craib

Ketika kita merancang suatu produk, baik artefak fisik atau digital, kita perlu menghadapi beberapa pertanyaan. Anehnya, pertanyaan tersebut kebanyakan bukan yang berkaitan dengan aspek visual, bertentangan dengan fungsi estetika dan visual yang kebanyakan orang harapkan dari aktivitas desain.

Faktanya, aspek yang tak berwujud dari desain produk ini mungkin terdengar asing. Namun, sudut pandang ini bukanlah sesuatu yang baru dalam desain pasca-industri: hal tersebut adalah landasan untuk menyusun produk dan layanan baru dengan mempertimbangkan bagaimana orang berinteraksi dengan objek dan tanda-tanda yang mewakili objek di dunia nyata, saat artefak kontemporer berbicara lebih banyak tentang informasi daripada bentuk dan materialitasnya saja. Ini lebih banyak tentang makna dan emosi yang terlibat dalam pengalaman dengan produk [1] [2].

Gbr. 1: Garam dan merica dirancang untuk mewakili simbol sosial.

Simbol, ikon, dan representasi tipologi lainnya sebagian besar dibahas dalam Semiotika, mempelajari hubungan antara hal-hal dan interpretasi yang dimiliki orang tentang mereka [3]. Dalam Semiotika, interaksi objek yang sama mungkin memiliki beberapa makna oleh individu yang berbeda, karena setiap model menghasilkan representasi dinamika tersendiri. Karena itu, orang memahami produk dengan cara yang berbeda. Semiotika mendukung desainer untuk memvisualisasikan setiap tingkat di mana suatu objek dibaca oleh pengguna dan pengaruh maknanya dalam pengalaman pengguna dan nilai produk.

Model semiotika dari konsep desain produk

Desain produk bisa dibedakan dalam tiga tingkat semiotika [4]:

  • Tingkat Pragmatis: Mengapa produk tersebut ada?
  • Tingkat Semantik: Apa pendapat orang tentang produk tersebut?
  • Tingkat Sintaksis: Bagaimana produk tersebut dibuat?

Dalam proposal teoretis ini (Gambar. 2), tingkat pragmatis disesuaikan dengan strategi produk. Tingkat semantik berisi makna dari persepsi pengguna dan setiap orang yang terlibat. Dan pada akhirnya, tingkat sintaksis menjelaskan bagaimana produk terstruktur, komponennya, teknologi yang diadopsi, interaksi fungsional, dan lain-lain. Jadi, level terakhir ini sesuai dengan bentuk (sintaksis) produk, mengungkapkan bahwa desain produk, sebelum estetika dan elemen-elemen lainnya yang terlihat didefinisikan terutama dari perspektif strategi bisnis dan kebutuhan pengguna. Dialog ini menghasilkan visualitas artefak dan meningkatkan kualitas penggunaannya. Juga, tiga tingkat semiotika ini berfungsi sebagai lapisan desain yang saling berinteraksi, dalam penggabungannya. Di sini, kami menganggap kombinasi mereka sebagai konsep produk, dalam konsep ini diimbangi oleh siklus penggabungan antar lapisan.

Gambar. 2: Lapisan Desain Semiotik. (Sumber: Penulis)

Penggabungan ini dapat bekerja dalam pendekatan user-centered design (UCD), di mana keputusan strategis dan prototipe akan disempurnakan dan dievaluasi oleh persepsi pengguna (Gambar. 3).

Gambar 3: Dinamika UCD antara lapisan desain semiotika. (Sumber: Penulis)

Sebagai contoh, pada lapisan persepsi, mobil itu mewakili kebutuhan konsumen dan kebutuhan sosial yang penting bagi sebagian orang sementara itu mobil juga merupakan penyebab masalah mobilitas perkotaan untuk orang lain. Jadi, lapisan persepsi adalah jalan untuk memproyeksikan strategi yang berbeda untuk solusi produk transportasi, juga konfigurasinya sesuai dengan perspektif masing-masing pengguna/pemangku kepentingan. Mungkin untuk kelompok pengguna pertama, sebuah kendaraan individu itu baik, sementara transportasi kolektif, sepeda atau layanan mobilitas menjadi alternatif yang lebih baik untuk kelompok kedua. Melihat interaksi antar lapisan ini memungkinkan untuk merancang pengalaman yang lebih baik dan proposisi nilai yang disesuaikan dengan setiap profil pengguna.

Gambar 4: LRT di Rio de Janeiro, Brasil. (Sumber: situs web resmi pemerintah)

Demikian pula, beberapa konsumen lebih suka makan di rumah mereka, sementara yang lain mencari alternatif di kota. Untuk kedua kasus ini, ada solusi dan strategi yang berbeda sebagai konfigurasi, misalnya, layanan pengiriman, layanan konten kuliner, atau usaha makanan.

Penting untuk mempertimbangkan saling ketergantungan antar lapisan desain semiotika. Dalam produk yang sudah ada, misalnya, aliran penggabungan antar lapisan dapat dimulai pada lapisan konfigurasi, mulai dari proses perancangan ulang melalui pengamatan masalah dalam pengalaman pengguna dengan produk dan mengidentifikasi masalah dalam antarmuka (interface) dan strukturnya, serta strategi-strategi seperti apa yang perlu disempurnakan oleh desainer dan tim pengembangan. Dengan demikian, lapisan-lapisan desain semiotika berfungsi sebagai titik pandang yang berbeda-beda yang memadukan makna produk dan konsepnya dan juga membawa wawasan baru ke proses desain.

Pertimbangan

Pada artikel ini, saya berbagi beberapa pembelajaran dan asumsi teoritis dalam desain. Saya harap tulisan ini membantu proses desain untuk berinteraksi dalam proyek-proyek yang berkaitan dengan pengalaman pengguna.


Penulis

André Grilo, M.Sc.
Head of Design, Informatics Superintendency
Federal University of Rio Grande do Norte, Brazil.

Referensi

  1. Norman, D. (2004). Emotional Design. New York: Basic Books.
  2. Buxton, B. (2007). Sketching User Experience. San Francisco: Morgan Kaufmann / Elsevier.
  3. Chandler, D. (2007). Semiotics: The Basis. 2nd ed. London: Routledge.
  4. Morris, C. (1938). Foundations of the Theory of Signs. University of Chicago Press.