Ketika Kano pertama kali diluncurkan pada 2013, tim pembuatnya tahu bahwa mereka melakukan sesuatu yang hebat. Merakit kit untuk “komputer yang bisa dibuat siapa saja” dari apartemen mereka, pendiri Kano, Yonatan Raz-Fridman dan Alex Klein menjual 200 prototipe murni dari mulut ke mulut.

Sebulan kemudian, jumlah anggota tim mereka mencapai lebih dari dua kali lipat dan mereka membawa ide itu ke Kickstarter di mana mereka berhasil mengumpulkan $ 1,5 juta, 15 kali lebih besar dibandingkan tujuan awal mereka untuk mencapai $ 100.000.

Dengan latar belakang jurnalisme, Klein menjadi akrab dengan dunia komputasi setelah mengerjakan cerita yang ia kerjakan sebagai freelancer tentang penemu Raspberry Pi, unit komputer berbasis Linux yang murah yang ia sangat sukai. “Saya menunjukkannya kepada sepupu saya yang masih kecil, Micah, yang kemudian responnya datang dalam bentuk tantangan: ‘Saya ingin membuat komputer sendiri yang sesederhana dan menyenangkan seperti Lego, jadi tidak ada yang harus mengajari saya,'” kenang Klein, yang sekarang menjadi CEO perusahaan yang masih baru ini. “Itulah yang memotivasi saya untuk memulai Kano.”

Setelah produk yang ia buat diberi nama berdasarkan Kano Jigoro, guru seumur hidup dan pendiri seni beladiri judo, Klein mulai bekerja merancang prototipe awal dan membawanya di depan anak-anak seperti Micah secepat mungkin.

“Kami mewujudkannya sambil jalan,” kata Klein. “Saya mulai mencoba dan mencari tahu otak open-source kecil ini untuk diri saya sendiri. Ketika misteri-misteri itu terurai, saya mencatat banyak hal dan memikirkan kisah-kisah yang jelas serta semua metafora untuk membantu memperjelas komponen-komponennya. Saya duduk di lantai ruang bermain Micah dengan notepad dan mulai membuat beberapa halaman sketsa buku Lego.”

Ayahnya Micah memperkenalkan Klein kepada Raz-Fridman (co-founder), yang menyediakan komponen berbiaya rendah untuk pembuatannya, seperti keyboard dan kabel yang murah. “Kami mengemas semua prototipe awal ke dalam 200 kotak putih yang dapat dilipat tangan, bersama dengan versi awal buku bergambar pertama kami, Make a Computer, yang menunjukkan proses merakit bagian per bagian.”

Tes pertama berjalan dengan baik. Saat berkunjung ke sekolah-sekolah di bagian London Utara, mereka mengajukan pertanyaan kepada siswa kelas tiga seperti, “Siapa di sini yang telah melihat bagian dalam komputer?” dan “Siapa yang bisa memberi tahu saya cara kerja komputer?” Pertanyaan pertama selalu dipenuhi dengan kesunyian, sementara pertanyaan kedua melepaskan semangat kegembiraan dari para siswa, yang ingin berbagi sedikit demi sedikit informasi yang mereka pikir mereka ketahui. Ketika keduanya melanjutkan dengan bertanya, “Siapa yang berpikir bahwa sebenarnya kalian bisa membuat komputer?” mereka sekali lagi menemukan kesunyian dari anak-anak.

Tetapi mereka tidak berdiam diri karena kurangnya antusiasme dari anak-anak. Ketika Klein dan Raz-Fridman memberi tahu anak-anak bahwa mereka sebenarnya memang akan membuat komputer sendiri, kotak-kotak kardus Kano dengan cepat robek terbuka dan dibuang ketika penguji pengguna yang mau terjun ke dalam tugas, memasukkan steker dan lampu. lampu.

“Kami tahu kami melakukan sesuatu dan mulai mencari dan mengambil semua kelengkapan dari seluruh dunia, menunjukkannya kepada orang-orang dari segala usia,” kata Klein. “Kami menemukan bahwa siapa pun, di mana saja kagum oleh kemungkinan membuat komputer daripada hanya menggunakannya.”

(Kit komputer Kano)
(Kit layar Kano)

Ada dua opsi yang tersedia: Yang pertama adalah kit komputer yang dilengkapi dengan Raspberry PI 3, keyboard nirkabel, pengeras suara (speaker) DIY, casing khusus, kartu SD, catu daya (power supply), kabel HDMI, dan panduan berbentuk buku cerita. Dan yang kedua adalah kit speaker, yang mencakup layar HD, penopang layar, bungkus penampil pixel, catu daya (power supply), kabel HDMI, dan panduan berbentuk buku cerita. (Kedua kit ini juga termasuk satu set stiker) Kedua kit ini memiliki versi Kano OS terbaru yang telah dimuat sebelumnya, sistem operasi lengkap yang dirancang untuk mendemistifikasi komputer dan mengarahkan pengguna melalui tantangan seperti permainan yang membangun keterampilan pengkodean (coding) secara nyata: Make Art, Make Music, Make Minecraft, Make Apps, Kano World dan Terminal Quest.

Hasil akhirnya adalah komputer pribadi (yang dibuat sendiri – DIY) yang lengkap dan kuat yang dapat melakukan streaming video HD, memainkan game 3D yang kompleks, menjalankan ribuan aplikasi open source, mengerjakan pekerjaan rumah, membuat karya seni, musik, dan banyak lagi.

Seperti yang Anda bayangkan, mengambil sesuatu yang serumit komputer/PC dan menyederhanakannya sampai pada titik di mana seorang anak dapat membangun sendiri tanpa bantuan orang dewasa bukanlah pekerjaan yang mudah. “Salah satu prinsip kami adalah kata-kata itu penting; kami menghabiskan banyak waktu untuk penjelasan seperti halnya disrupsi yang kami lakukan,” kata Klein. “Kami memecah konsep-konsep rumit menjadi langkah-langkah sederhana dan kami juga menghabiskan waktu berjam-jam dalam seminggu pada workshop, dan secara diam-diam mengamati para pemula dari segala usia mengambil langkah pertama mereka ke dunia komputasi yang awalnya membingungkan. Kami membuat catatan dan menyatukannya, selalu ditujukan supaya ‘sampai tanpa diarahkan’ pada titik di mana tidak ada orang lain yang di ruangan yang bisa menolong Anda untuk membangun sesuatu yang luar biasa ini. Kami membuat prosesnya sesederhana dan semenyenangkan Lego. “

Pemikiran dengan menggunakan sistem memainkan peran besar di sini, karena tim Kano menggunakan warna untuk memandu para pengguna melalui proses perakitan. “Dalam sistem Kano, merah berarti daya (power), kuning berarti visual, biru berarti suara, hijau berarti data dan oranye menyiratkan konstruksi,” kata Klein. Alat-alat permainan juga ditambahkan ke pencarian jalan secara intuitif seperti ketika pengguna mulai membuat kode dan bermain dengan komputer mereka, mereka membuka lencana (unluck badges) dan menjalankan cara-cara baru untuk memanipulasi aplikasi dengan peningkatan kecanggihan sintaksis. Leaderboards dan tantangan dengan menggunakan tanda telur bagi pemain melalui komunitas online, yang diistilahkan dengan “Dunia Kano.”

Sekarang, tim Kano melakukannya lagi, kali ini dengan tiga kit DIY baru untuk perangkat: kamera, speaker, dan papan cahaya (lightboard). “Kami awalnya memiliki sistem modular yang tak terbatas”, kata Klein. “Itu bisa menjadi segalanya. Kami akhirnya sampai pada tiga arketipe yang akan jadi akrab bagi semua orang, tetapi juga sangat dapat disesuaikan (customizable). Ini memungkinkan kami untuk menghubungkan kode ke topik sehari-hari seperti fotografi, musik, dan data.”

Penambahan baru memberi masukan langsung ke tujuan utama Kano untuk memberi anak-anak muda, dan juga yang berjiwa muda, cara sederhana dan menyenangkan untuk membuat dan bermain dengan teknologi dan, dalam prosesnya, mengendalikan dunia di sekitar mereka. “Daripada memikirkan ‘belajar membuat kode’ atau ‘pendidikan STEM’ sebagai keseluruhan dan sampai akhir, kami memikirkan komputasi sebagai sarana untuk pencarian kreatif yang sudah menarik minat Anda, seperti membuat beat Kanye West, sebuah aplikasi untuk melacak tim olahraga favorit Anda, kastil sekali klik di Minecraft atau karya seni memesona berbentuk pohon di taman Anda”, kata Klein.

Jika rekam jejak yang mereka jalani benar, tampaknya cukup aman untuk mengatakan bahwa kit terbaru akan digunakan oleh anak-anak untuk membuat kreasi mereka sendiri dalam waktu singkat. Dengan waktu yang tersisa, pada saat pers, Kano membutuhkan hanya di bawah $ 50.000 yang tersisa untuk meningkatkan target ambisius dana sebesar $ 500.000 untuk mereka gunakan.


Disadur dari tulisannya Carly Ayres untuk Core77 yang bisa dilihat di sini.