Mendapatkan algoritma sebagai penunjang untuk membuat koleksi busana mutakhir mungkin tampak seperti sebuah pertanyaan yang mengada-ada. Tetapi ada dua mahasiswa desain telah melakukan hal tersebut dengan memulai brand fashion yang dirancang dengan Artificial Intelligent (AI) pertama di dunia.

Glitch adalah karya dua orang yang bertemu di sebuah kelas pelatihan di Massachusetts Institute of Technology dimana disana para siswa didorong untuk mengembangkan perangkat lunak pembelajaran yang mendalam (deep learning software) untuk inisiatif berbasis kreativitas, seperti kesenian, perhiasan, dan parfum yang digenerate dengan bantuan AI.

Studi yang dilakukan oleh Pinar Yanardag dan Emily Salvador mengarah ke program yang mampu merancang versi dari “little black dress”.

Perusahaan mereka, Glitch, menggunakan AI untuk menciptakan desain yang mereka katakan mendorong sampai ke batas-batas fashion, misalnya seperti gaun asimetris dengan satu lengan normal dan satu lonceng.

Tipikal pelanggan Glitch adalah wanita yang bekerja di bidang teknologi. Setengah dari hasil rancangan gaun hitam kecil disumbangkan ke AnitaB.org, sebuah perusahaan sosial yang mendukung perempuan agar mereka dapat memasuki bidang sains, teknologi, engineering dan matematika (STEM).

Kedua wirausahawan ini ingin menginspirasi wanita untuk terlibat dalam machine learning, dan menciptakan alat yang ramah pengguna (user-friendly) untuk mendorong kolaborasi antara AI – manusia.

Berpikir Positif

Di masa depan, kolaborasi antara algoritma dan manusia bisa menjadi sebuah norma (hal yang wajar/biasa). Peneliti Yale dan Oxford melihat bagaimana AI akan membentuk kembali setiap aspek kehidupan kita, mentransformasikan transportasi, kesehatan, sains, keuangan, dan militer.

Survei para peneliti machine learning memprediksi kemungkinan 50% AI akan mengungguli manusia di setiap pekerjaan pada tahun 2062, dan mengotomatisasi semua pekerjaan dalam 120 tahun. Tetapi hasilnya menyoroti perbedaan secara regional yang luas dalam ekspektasi atas potensi AI.

Orang-orang di seluruh dunia memiliki prediksi yang berbeda tentang kapan ketika pembelajaran mesin akan melebihi kinerja manusia. (Foto: Arxiv)

Responden Asia mengharapkan high level machine intelligence (HLMI) untuk mengubah dunia kita lebih cepat dari yang diperkirakan wilayah lainnya. Ini menggambarkan situasi di mana mesin tanpa bantuan mampu menyelesaikan tugas lebih efektif dan lebih murah daripada karyawan manusia, yang meliputi kegiatan seperti merancang pakaian dan fungsi kreatif lainnya.

Rata-rata, peneliti machine-learning dari Asia memprediksi kedatangan HLMI dalam kurun waktu 30 tahun, dibandingkan dengan 74 tahun yang diprediksikan oleh peneliti dari Amerika Utara.

Laporan yang dibuat oleh World Economic Forum’s Future of Jobs 2018, mencantumkan AI, machine-learning dan penyebaran teknologi baru sebagai pendorong utama perubahan di pasar tenaga kerja global.

Ketika algoritma kemampuan belajar mandiri menjadi lebih canggih dan mengintegrasikan lebih jauh dengan pekerjaan dan kehidupan sosial kita, mereka dapat memiliki kapasitas yang lebih besar untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan interpretasi artistik dan kreativitas.

Dalam laporan diatas, disebutkan juga bahwa kategori pekerjaan-pekerjaan baru akan muncul. Perangkat keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan lama dan baru akan berubah di sebagian besar industri, mengubah cara dan di mana orang bekerja.


Disadur dari tulisan Johnny Wood untuk World Economic Forum